
(SeaPRwire) – By: Adrian Kingsley
Perang suhu di kantor bukan sekadar lelucon. Standar pendingin ruangan yang ditetapkan sejak 1960-an masih mengacu pada model pekerja pria berjas wol. Akibatnya, separuh populasi—wanita—terpaksa membawa jaket ke rapat atau menumpuk syal di kursi. Ini bukan masalah preferensi. Ini kegagalan desain sistemik.
Model kenyamanan termal Povl Ole Fanger tahun 1968 menjadi dasar HVAC modern. Asumsinya: metabolisme pria, lapisan pakaian formal, dan laju produksi panas tubuh laki-laki. Data itu masih dipakai hingga kini, meski 57% tenaga kerja AS kini perempuan dan dress code berubah total. Kaum pria pun kini pakai kaos dan sneakers, bukan jas tiga potong.
Dampaknya meluas. Riset menunjukkan perempuan lebih rentan kedinginan karena komposisi lemak tubuh dan regulasi estrogen pada pembuluh darah. Bukan hanya AC, standar keselamatan kerja—from crash test dummy hingga alat pelindung diri—juga dirancang untuk tubuh pria. Akibatnya, risiko cedera perempuan di kecelakaan mobil 47% lebih tinggi.
Perubahan standar bukan soal keadilan gender. Ini efisiensi energi. Menurunkan suhu AC berlebihan bisa hemat listrik saat permintaan pendinginan melonjak. Kantor yang nyaman untuk semua justru meningkatkan fokus kerja. Standar usang harus direvisi—bukan dengan menambah jaket, tapi dengan mengubah parameter desain.
Author bio: Adrian Kingsley, seorang sarjana internasional yang telah lama meneliti administrasi publik dan kebijakan sosial.
